Warga Surabaya Sering Mengeluh Nyeri Sendi Tapi Hasil Rontgen Normal? Mungkin Masalahnya Ada di Saraf dan Otot

Bagikan ke :

Banyak warga Surabaya akhir-akhir ini mengeluhkan keluhan nyeri sendi, terutama di bagian leher, bahu, pinggang, dan lutut. Rasa nyeri itu kadang muncul setelah bekerja seharian, duduk lama, atau bahkan tanpa sebab yang jelas. Menariknya, ketika mereka memeriksakan diri ke dokter dan menjalani rontgen, hasilnya sering kali “normal” — tidak ada retakan, patahan, atau kelainan tulang yang terlihat.

Lalu muncul pertanyaan:

“Kalau hasil rontgen normal, kenapa badan tetap sakit?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami bahwa tidak semua nyeri sendi berasal dari tulang. Dalam banyak kasus, penyebab utamanya justru berada di otot, jaringan lunak, dan saraf yang saling berhubungan dengan struktur tulang. Artikel ini akan menjelaskan dengan bahasa medis yang mudah dipahami, serta memberi gambaran solusi alami yang kini semakin populer di kalangan warga Surabaya — yaitu terapi penataan sendi (kretek).

Nyeri Sendi Tapi Rontgen Normal: Fenomena Umum di Usia Produktif

Secara medis, rontgen berfungsi untuk melihat struktur tulang keras, seperti apakah ada retakan, keretakan kecil, atau kelainan bentuk. Namun, rontgen tidak bisa menampilkan jaringan lunak seperti otot, ligamen, tendon, dan saraf.

Padahal, sekitar 70–80% penyebab nyeri sendi dan punggung berasal dari jaringan lunak tersebut. Jadi, ketika hasil rontgen Anda terlihat normal, bukan berarti tubuh benar-benar sehat — hanya saja masalahnya tidak berada pada tulang keras.

Beberapa contoh kasus yang sering terjadi di warga Surabaya usia 25–45 tahun antara lain:

  • Pegal di pinggang bawah setelah duduk lama di kantor atau mengendarai motor.
  • Nyeri di bahu kanan setelah bekerja di depan komputer seharian.
  • Leher terasa berat dan kadang menjalar ke kepala hingga menyebabkan pusing.
  • Lutut nyeri padahal tidak pernah jatuh atau cedera.

Keluhan-keluhan seperti ini sering kali tidak tampak di hasil rontgen, karena penyebabnya bukan patah tulang, melainkan otot tegang, saraf terjepit, atau sendi bergeser sedikit dari posisi normalnya.

Apa Sebenarnya yang Terjadi pada Tubuh?

Tubuh manusia terdiri atas jaringan yang saling terhubung: tulang, otot, ligamen, dan saraf. Ketika salah satu bagian terganggu, maka bagian lain ikut bereaksi.

a. Saraf Terjepit (Nerve Compression)

Kondisi ini sering terjadi di area tulang belakang.
Ketika posisi tulang atau sendi sedikit bergeser, saraf di antara ruas tulang bisa tertekan.
Akibatnya timbul nyeri yang menjalar, kesemutan, hingga mati rasa.

Banyak warga Surabaya yang bekerja di depan komputer atau duduk di kendaraan lama tanpa disadari berisiko mengalami hal ini. Bahkan posisi duduk yang salah bisa memicu tekanan ringan tapi terus-menerus pada saraf.

b. Otot Tegang dan Kaku (Muscle Tightness)

Stres kerja, kelelahan, dan postur tubuh yang buruk bisa membuat otot menegang secara terus-menerus.
Otot yang tegang akan menarik tulang dari posisinya dan menekan sendi di sekitarnya. Akibatnya, muncul rasa sakit, meskipun tulang itu sendiri dalam kondisi normal.

c. Sendi Bergeser Halus (Joint Misalignment)

Kadang, posisi sendi berubah sangat sedikit — hanya beberapa milimeter — namun cukup untuk menekan saraf atau membuat otot sekitar menjadi tidak seimbang.
Hal ini sering terjadi pada area pinggul, bahu, dan tulang belakang bagian bawah.

Faktor Pemicu Umum di Kalangan Warga Surabaya

Gaya hidup di kota besar seperti Surabaya menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya keluhan sendi dan otot.

a. Posisi Duduk Lama

Banyak pekerja di Surabaya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer, baik di kantor maupun di rumah. Duduk lama dengan postur salah dapat menekan saraf punggung bawah dan menyebabkan nyeri menjalar ke pinggang serta paha.

b. Macet dan Perjalanan Panjang

Kondisi lalu lintas Surabaya yang padat membuat banyak orang duduk lama di kendaraan. Getaran motor atau mobil, ditambah posisi duduk yang tidak ergonomis, membuat otot punggung tegang tanpa disadari.

c. Kurang Olahraga

Aktivitas fisik rendah membuat otot melemah, sementara sendi menjadi kaku. Saat harus bekerja keras tiba-tiba (seperti angkat barang atau bersih-bersih rumah), otot yang tidak siap akan cepat cedera.

d. Kelelahan dan Stres

Stres emosional juga bisa menyebabkan ketegangan otot, terutama di bahu, leher, dan punggung. Banyak warga kota besar seperti Surabaya tidak sadar bahwa rasa cemas atau tekanan pekerjaan dapat “tersimpan” di tubuh dalam bentuk otot yang menegang.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meski hasil rontgen terlihat normal, ada beberapa tanda tubuh yang menunjukkan bahwa saraf atau otot sedang bermasalah:

  • Nyeri berpindah-pindah tanpa sebab jelas.
  • Rasa kaku di punggung bawah saat bangun tidur.
  • Bahu terasa berat dan sulit digerakkan ke atas.
  • Kesemutan atau baal di lengan dan kaki.
  • Nyeri menjalar dari pinggang ke paha atau betis.
  • Badan terasa tidak seimbang saat berjalan.

Jika gejala seperti ini dibiarkan, kondisi bisa berkembang menjadi sindrom saraf kejepit kronis (chronic nerve compression) atau skoliosis ringan akibat kompensasi tubuh terhadap posisi yang salah.

Penanganan yang Tepat: Jangan Hanya Fokus di Tulang

Bila pemeriksaan rontgen Anda normal, bukan berarti tidak ada masalah. Pemeriksaan lanjutan seperti MRI bisa menunjukkan jaringan lunak, namun biayanya relatif tinggi. Alternatif lain yang kini mulai banyak dipilih adalah terapi manual dan koreksi sendi.

Beberapa pendekatan yang terbukti membantu:

  • Fisioterapi dan stretching. Untuk melatih otot yang kaku agar kembali lentur.
  • Terapi pijat medis. Memperbaiki sirkulasi darah di jaringan otot.
  • Penataan ulang tulang dan sendi (Kretek). Untuk mengembalikan posisi alami sendi dan mengurangi tekanan pada saraf.

Terapi Kretek Surabaya: Pendekatan Alami untuk Nyeri Sendi dan Saraf

Metode kretek merupakan bentuk terapi manual yang mengombinasikan peregangan, tekanan lembut, dan pelurusan sendi sesuai anatomi tubuh.
Tujuannya bukan sekadar membuat sendi “berbunyi”, tetapi mengembalikan posisi alami tulang dan melancarkan aliran saraf serta darah.

Di Kretek Surabaya, terapi dilakukan oleh praktisi berpengalaman yang memahami hubungan antara sistem saraf, otot, dan tulang. Setiap sesi diawali dengan pemeriksaan ringan — mengecek titik ketegangan, keseimbangan tubuh, dan arah pergeseran sendi.

Banyak pasien melaporkan perubahan signifikan setelah terapi:

  • Tubuh terasa lebih ringan dan rileks.
  • Rasa nyeri berkurang tanpa obat.
  • Tidur lebih nyenyak karena otot tidak lagi tegang.
  • Postur tubuh membaik dan gerakan menjadi lebih luwes.

Yang menarik, metode ini bersifat non-medis dan non-operatif, sehingga relatif aman untuk semua kalangan — termasuk pekerja kantoran, pengendara, maupun ibu rumah tangga.

Tips Mencegah Nyeri Sendi Akibat Saraf dan Otot

Agar keluhan tidak kambuh, warga Surabaya dapat menerapkan kebiasaan sehat berikut:

  • Lakukan peregangan setiap 1 jam saat duduk lama.
  • Gunakan kursi ergonomis dengan sandaran yang menopang punggung bawah.
  • Perbanyak minum air putih agar jaringan otot tetap elastis.
  • Jaga berat badan ideal untuk mengurangi beban sendi.
  • Tidur cukup dan hindari posisi tidur miring terlalu lama di satu sisi.
  • Konsultasikan ke praktisi tubuh jika sering merasa tegang di area tertentu.

Bagikan ke :
Tags: No tags

Leave a Reply