Tak Disangka, Praktik Kretek untuk Skoliosis di Malang Makin Populer – Apakah Aman?
Skoliosis, atau kelainan tulang belakang yang melengkung ke samping, selama ini identik dengan pengobatan medis jangka panjang seperti fisioterapi, penggunaan brace, hingga operasi pada kasus berat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Malang mulai melirik alternatif baru yang tak kalah menarik perhatian — terapi kretek.
Istilah “kretek” di sini bukanlah rokok tradisional Indonesia, melainkan teknik penyesuaian tulang atau manipulasi sendi yang menghasilkan bunyi “krek” khas saat dilakukan. Terapi ini dikenal luas dalam dunia chiropractic atau terapi manipulasi tulang belakang. Meski belum sepenuhnya diakui dalam dunia medis konvensional, popularitasnya terus meningkat, terutama di kota-kota besar termasuk Malang.
Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah terapi kretek benar-benar aman bagi penderita skoliosis? Atau hanya tren sesaat yang berpotensi menimbulkan risiko jika dilakukan sembarangan?
Mari kita kupas tuntas.
Apa Itu Skoliosis dan Mengapa Bisa Terjadi?
Sebelum membahas terapi kretek, penting untuk memahami kondisi skoliosis itu sendiri. Skoliosis terjadi ketika tulang belakang melengkung ke arah kiri atau kanan secara tidak normal, membentuk huruf S atau C. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:
Kongenital (bawaan lahir)
Kelainan neuromuskular, seperti cerebral palsy atau distrofi otot
Kebiasaan postur buruk dalam jangka panjang
Idiopatik, atau tidak diketahui penyebab pastinya — paling sering terjadi pada remaja
Gejalanya bervariasi, mulai dari bahu tidak rata, pinggul miring, cepat lelah saat berdiri lama, hingga nyeri punggung berkepanjangan.
Mengapa Terapi Kretek Mulai Dilirik?
Di Malang, banyak penderita skoliosis mulai mencari solusi yang lebih cepat dan minim rasa sakit dibanding terapi konvensional. Fisioterapi memang efektif, namun membutuhkan konsistensi dan waktu lama. Sementara itu, operasi tulang belakang jelas bukan pilihan yang ringan — mahal, menegangkan, dan penuh risiko.
Di sinilah terapi kretek hadir sebagai alternatif menarik. Beberapa alasan mengapa banyak orang mulai mencobanya antara lain:
Memberikan rasa lega instan, terutama untuk pegal, kaku, atau nyeri punggung
Tidak menggunakan obat atau alat invasif
Durasi terapi relatif singkat
Banyak testimoni positif dari mulut ke mulut maupun media sosial
Beberapa klinik kretek di Malang mengklaim telah menangani ratusan pasien dengan keluhan tulang belakang, termasuk skoliosis ringan hingga sedang. Meski klaim tersebut masih perlu pembuktian ilmiah lebih mendalam, tak bisa dipungkiri bahwa terapi ini mulai dipercaya masyarakat.
Bagaimana Terapi Kretek Bekerja?
Secara umum, terapis akan memeriksa postur tubuh dan menentukan titik-titik tulang atau sendi yang dianggap “terlilit” atau tidak selaras. Dengan teknik dorongan cepat namun terkontrol, sendi tersebut digerakkan hingga menghasilkan bunyi khas – inilah yang membuat banyak orang merasa lega setelahnya.
Pada penderita skoliosis, terapi kretek tidak bertujuan meluruskan tulang belakang secara total, karena hal itu mustahil dilakukan dalam satu kali sesi. Namun:
Kretek dapat membantu mengurangi ketegangan otot di sekitar tulang belakang
Meningkatkan mobilitas sendi yang kaku
Mengurangi rasa sakit akibat tekanan saraf atau postur yang tidak seimbang
Apakah Aman untuk Skoliosis?
Jawabannya: bisa aman, asal dilakukan oleh praktisi yang berpengalaman dan memahami anatomi tulang belakang.
Yang perlu diwaspadai adalah praktik kretek abal-abal yang hanya mengandalkan keberanian memelintir tanpa pemahaman teknik. Terapi manipulasi tulang bukan sekadar pijat biasa. Jika dilakukan sembarangan, bisa menyebabkan:
Cedera otot atau ligamen
Perpindahan sendi yang salah posisi
Kompresi saraf
Bahkan kerusakan permanen pada tulang belakang
Karena itu, bagi penderita skoliosis, penting untuk memilih tempat terapi yang memiliki assessment postur terlebih dulu, menggunakan metode aman, dan tidak tergesa-gesa menekan tulang.
Soft Reminder: Kretek Bukan Pengganti Medis, Tapi Pendamping
Penting untuk dipahami: terapi kretek bukan pengganti konsultasi dokter atau fisioterapi. Namun, dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya justru memberi hasil lebih baik.
Idealnya:
Konsultasi medis → untuk diagnosis dan pemantauan kelengkungan tulang
Fisioterapi → untuk latihan koreksi otot
Kretek → untuk mengurangi ketegangan dan mengembalikan mobilitas sendi
Dengan pendekatan holistik seperti ini, skoliosis tidak hanya ditangani dari satu sisi, tapi dari seluruh aspek pendukung tubuh.
Soft Reminder: Kretek Bukan Pengganti Medis, Tapi Pendamping
Sebelum mencoba, pastikan kamu memperhatikan beberapa hal penting:
✔ Terapis memiliki pengalaman khusus menangani skoliosis
✔ Ada pemeriksaan postur atau konsultasi terlebih dahulu sebelum tindakan
✔ Tidak menjanjikan kesembuhan instan — karena skoliosis adalah kondisi jangka panjang
✔ Menyarankan jadwal terapi yang realistis dan bertahap
✔ Tempatnya higienis, rapi, dan profesional
Beberapa praktik kretek terpercaya di Malang bahkan menyediakan foto X-ray sebelum dan sesudah untuk melihat perubahan struktur tubuh dari waktu ke waktu — ini tentu lebih meyakinkan daripada sekadar merasakan efek “ringan sementara”.
Kesimpulan: Tren Positif, Asal Bijak Memilih
Terapi kretek untuk skoliosis di Malang memang tengah naik daun — dan itu bukan tanpa alasan. Banyak penderita merasa lebih lega, bugar, dan bersemangat menjalani aktivitas setelah terapi. Namun sekali lagi, keselamatan adalah hal utama.
Jika kamu berencana mencobanya, carilah tempat kretek yang:
Mengutamakan edukasi, bukan sekadar sensasi suara “krek”.
Karena pada akhirnya, skoliosis bukan hanya soal tulang yang miring — tapi tentang bagaimana kita menjaga kualitas hidup agar tetap nyaman dan percaya diri.





awalnya pgn nyoba aja tp kyknya mau deh sebulan sekali ksni



Badan enteng. Mantap lah pokoknya



